Sudah panjang. Aku harus memotongnya. Aku langsung mengambil motorku dan pergi ke tukang cukur terdekat.
Kuhentikan motorku di depan toko itu. Tokonya sederhana, menggabung
dengan rumah si tukang cukur. Cat warna hijau dengan jendela besar di
depan toko itu yang ditulisi dengan cat warna merah, tulisannya adalah
“POTONG RAMBUT. RAPI. MURAH. DIJAMIN PUAS”.
Aku langsung mengambil kunci motor dan berjalan masuk ke dalam.
Ruangannya sederhana, tembok yang di cat senada dengan luarnya, meja dan
kursi yang berwarna putih tanpa pemakai, alat-alat cukur lengkap dengan
sisir bermacam-macam, ada yang kecil, ada juga yang besar. Ada yang
warna hitam, sampai warna oranye pun ada.
Namun di sini sepi. Tidak ada pelanggan sama sekali, mungkin hanya musik dangdut yang dinyalakan si tukang cukur.
Sesaat aku melihat-lihat, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
Refleks aku langsung berbalik dan melihat sesosok pria hitam kurus
berkumis dengan pakaian merah dan celana hitam. Lalu dia tersenyum
kepadaku dan berkata, “Mau potong Mas?”. Aku mengangguk dan duduk di
kursi putih. Kursi si pelanggan.
“Sepi, Mas?” Tanyaku sambil melihat bayangan si tukang cukur yang sedang mencari guntingnya lewat cermin di depanku ini. Cermin.
“Iya nih, Mas. Mungkin para pelanggan sudah bisa potong rambut sendiri.” Jawabnya sambil memasangkan kain plastik ke tubuhku.
“Mungkin ya, Mas.” Kataku dan bersiap-siap untuk dipotong rambutku. Saatnya untuk say goodbye pada rambut tersayang.
“Ini rambutnya mau diapain, Mas?” Tanyanya.
“Dirapiin aja, Mas.” Jawabku singkat. Si tukang cukur memulai ritual potong rambut dengan memotong rambut samping kananku, dan melanjutkannya dengan teliti dan penuh dengan Kesenian ala tukang cukur.
“Tuhan ternyata nggak ada, Mas.” Katanya secara tiba-tiba di tengah aku yang sedang asyik melihatnya yang ahli memotong rambutku.
“Maksud Mas?” Tanyaku bingung.
“Iya, Tuhan itu tidak ada.” Katanya sambil menatap mataku melewati perantara cermin.
“Kok bisa Mas bilang kayak begitu?” Tanyaku
“Kalau Tuhan itu ada, mengapa ada rakyat yang miskin, hidup menderita di pinggir jalan, meminta-minta. Iya, kan?” Jelasnya. Aku langsung diam. Hanya diam selama ritual ini berlangsung. Melihat kembali keahlian si tukang cukur.
Setelah beberapa lama, ritual ini selesai. Si tukang cukur
membersihkan rambut-rambut yang berada di bahuku dan mengambil sapu
untuk membersihkan rambutku yang sudah tercukur.
Sekarang rambutku sudah rapi. Serapi pakaian yang baru di setrika. Kemudian aku mengambil uang sepuluh ribu dari kantongku dan keluar dari toko ini.
‘Tuhan itu ada.’ Batinku, tidak terima dia berkata bahwa Tuhan tidak
ada, aku langsung masuk kembali dan berkata kepada Si tukang cukur,
“Ternyata tukang cukur itu tidak ada.”. Aku lihat dia kaget, dan matanya
melotot kepadaku.
“Adalah! Buktinya baru saja anda saya cukur. Iya, kan?” Katanya dengan nada kesal. Kemudian aku mengambil tangan si tukang cukur dan membawanya keluar. Menuju ke dunia luar, tidak lagi di dalam.
“Lihatlah beberapa orang di sana, banyak yang rambutnya panjang dan kotor, itu membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada. Kalau tukang cukur ada, tidak mungkin rambut mereka sepanjang meja bola tennis!.” Kataku.
“Itu salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang kepadaku, kalau saja mereka datang, pasti rambut mereka akan rapi dan bersih. Itu salah mereka, bukan salahku, dan itu juga tidak membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada.”
“Berarti itu juga membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kalau saja orang yang hidupnya miskin, menderita, dan lainnya itu mau mendekat ke Tuhan, pasti hidup mereka akan tenang, damai, dan sejahtera. Salah mereka sendiri tidak mau mendekat kepada Tuhan.”
Sesudah aku menyelesaikan perkataanku, aku langsung berjalan ke arah
motorku terparkirkan, menyalakannya, dan pergi. Namun, sebelum aku
berangkat pulang, aku melihat si tukang cukur itu melihat ke atas,
memandangi langit yang dihiasi awan putih. Namun, dia tidak sedang
melihat awan dan langit semata, dia sedang mencari Tuhan.
Sumber: www.nomor1.com
