Terlahir dalam keluarga pas-pasan dan cenderung miskin, DNA sukses orang
yang satu ini nampaknya terselip dalam citra yang ditangkap oleh
kawan-kawan semasa ia duduk di SD Purwogondo 2, Purwosari. Bakat dan
talenta untuk sukses itu diwakili dengan kata-kata: usil, jahil, iseng,
alias nyelelek, dan tak pernah bisa diam. Melanjutkan sekolah ke SMP
Muhammadiyah Indraprasta, pendidikan formalnya berakhir di SMA Ibu
Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang.
Lulus SMA tahun 1983, perjalanan hidupnya berputar di antara
menganggur, jadi kernet angkot, dan jadi supir truk elpiji di Tanah Mas,
Semarang.
Berbekal uang transport Rp 30.000,- dari Joko Dewo, temannya yang
sudah lebih dulu merantau ke ibukota, wong ndeso yang satu ini mengadu
nasib ke Jakarta tahun 1985. Dengan logat Jawa yang medhok, dan bahasa
Indonesia yang belepotan, ia berjuang menafkahi hidupnya. Berulang kali
bolak-balik Jakarta-Semarang dan bolak balik pula ia menjalani peran
sebagai supir, tukang gali sumur pompa, MC hajatan tingkat kampung, dan
berbagai kegiatan sekadar untuk menyambung hidup sampai tahun 1992.
Setelah itu, ia naik pangkat sebagai supir pribadi Alex Sukamto,
kemudian bekerja untuk orang Jepang, sampai 1995.
Ia mulai dikenal agak luas sejak menemani penyanyi cilik Joshua dalam
video klip Air, yang lebih diingat sebagai album Diobok-obok. Bergaul
karib dengan kawan-kawan di Radio SK (radio yang melahirkan Bagito,
Taufik Savalas, Ulfa Dwijayanti, Komeng, dsb) dan berulang kali tampil
bersama Srimulat, namanya melambung sebagai pembawa acara Empat Mata
tahun 2007 (belakangan dimodifikasi jadi Bukan Empat Mata). Jadilah ia
selebritas berpenghasilan miliaran rupiah per tahun. Wajahnya muncul di
televisi lima hari seminggu bahkan kadang lebih. Impiannya telah menjadi
kenyataan.
Ira Lathief dalam buku Tukul Arwana: Kumis Lele Rezeki Arwana,
merangkum kisah hidup Wong Ndeso, Katro, dan Kutukupret sukses ini
dengan menarik. Siapa saja yang haus resep sukses dapat menggali
inspirasi dari Tukul.
Pertama, Tukul hidup dengan ambisi tunggal: menjadi pelawak terkenal
yang masuk televisi. Ambisi itu sudah dipupuk sejak mengikuti berbagai
lomba lawak tingkat kampung, kabupaten, hingga propinsi, diusia sekolah
menengah. Ia dan teman-temannya sering juara, mesti hal itu tidak
kunjung membuatnya mendapatkan nafkah yang layak. Hebatnya, ia bisa
terus memelihara dan menumbuhkan ambisi itu sampai lebih dari 20 tahun.
Segala macam pekerjaan yang dilakukannya untuk bertahan hidup, tidak
membuat ambisinya surut. Penderitaan hidup tidak berhasil “membunuh”
ambisi tunggal tersebut. Ada persistensi, ketekunan, dalam berusaha,
yang sering disebutnya sebagai “kristalisasi keringat”.
Kedua, Tukul belajar bergaul dan mau menerima masukan dari berbagai
orang yang ditemuinya. Dengan cara itu ia menjadi mudah diarahkan.
Rammon Tommibens, yang bersama Harry De Fretes pernah memberinya tempat
untuk tampil di Comedy Cafe, mendorong ia untuk membaca buku. Pergaulan
dengan Rammon menyadarkan Tukul bahwa “Orang miskin harus merevolusi
dirinya untuk maju. Kalau mau maju harus baca buku. Banyak baca buku
akan mengubah nasib.” Dan begitu giatnya Tukul membaca, khususnya
buku-buku yang terkait kepribadian orang berdasarkan tanggal lahir,
shio, primbon, dan sebagainya, ia kemudian bisa bergaya seperti peramal
sifat dan kepribadian orang. Pengetahuan ini memudahkan ia masuk ke
lapisan orang-orang yang memang suka “ditebak” kepribadiannya.
Ketiga, Tukul diakui teman-temannya memiliki disiplin yang
mengagumkan sebagai pelawak. Jika pentas Srimulat di mulai pukul 9, maka
pukul 8 ia sudah ada di lokasi. Hal ini juga menunjukkan adanya
antusiasme yang luar biasa dalam dirinya untuk menghibur orang,
menyenangkan audiensnya. Dalam soal ini Tukul lebih mirip militer
ketimbang seniman. Ia punya disiplin.
Keempat, Tukul membuat dirinya mudah dihubungi. Justru karena dirinya
belum terkenal, maka ia merasa perlu membuat kartu nama agar bisa
dihubungi orang. Hal ini bukan sesuatu yang galib untuk pelawak tahun
80-90an.
Kelima, Tukul membangun brand dan keunikan dirinya dengan berbagai
cara. Mulai dari “Kembali ke laptop”, “Puas, puas, puas!”, “Tak
sobek-sobek mulutmu!”, berbahasa Inggris dengan sok-sokan, menyebut
dirinya sebagai Cover Boy dengan nama Reynaldi, sampai tepuk tangan gaya
monyet dan memanyunkan bibir atau menyisir rambut dengan jari-jarinya.
Ini membuatnya menjadi khas, walau tidak semua hal itu orisinal tetapi
modifikasi dari apa-apa yang semula ditirunya dari orang lain. Namanya
pun berulang kali dimodifikasi dari Tukul Kelawu Kethek, Tukul Piranha,
Tukul Julung-julung, Tukul Mujair, Tukul Sapu-sapu, sebelum akhirnya
Tony Rastafara, menyarankannya menggunakan Tukul Arwana sebagai nama
panggung.
Keenam, Tukul juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan berusaha
untuk tidak melupakan asal usulnya. Ia punya rumah yang difungsiikan
sebagai Posko Ojolali, tempat teman-temannya ditampung dan sekaligus
tempat evaluasi penampilannya. Dalam berbagai kesempatan syuting, ia
melibatkan 20-an kawan-kawannya agar ada semacam distribusi rezeki. Dan
itu sudah dilakukannya sejak masih susah dulu. Jika dapat kesempatan
manggung dan dapat honor, ia suka mentraktir teman-temannya.
Ketujuh, Tukul berusaha mengenal audiensnya, menghargai dan
melibatkan mereka. Menyanyi, main gitar, dan berbagai hal dilakukan
Tukul untuk membuat audiensnya senang. Bahkan, menurut Tarzan, Tukul
adalah orang pertama yang pernah mengusulkan agar Srimulat mengumpulkan
penonton berbayar untuk menjaga pamor.
Terakhir, Tukul juga dikenal sederhana. Ia tidak punya kartu kredit.
Makanan favoritnya adalah oseng-oseng kangkung, telur mata sapi, dan
sambal petai. Ia tetap gagap teknologi, walau waktu kerja “dipaksa”
menggunalkan laptop.
Jika Tukul punya DNA sukses, siapa yang tidak?
*) Tulisan ini juga di muat di Majalah Anda Luar Biasa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller;
trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri www.pembelajar.com
Sumber: www.nomor1.com

